Senin, 11 November 2013

cinta tanpa pacaran

cinta tanpa pacaran








Bro en sis rahimakumullah, ‘penggila’ gaulislam, ketemu lagi bareng saya, di bahasan yang mirip-mirip sama tulisan saya sebelumnya , yaitu ‘pacaran’. Haha… bikin ngakak nih, pacaran, pacaran, dan pacaran. Waduuuh, ada hubungan apa ya saya dengan ‘pacaran’? *mikir sambil tepok jidat.
Eh, Tapi nggak usah bingung, ragu, takut, en khawatir ya, Sob. Hubungan saya dengan istilah ‘pacaran’, doi emang musuh bebuyutan kok. Jadi wajar, kalo saya ama istilah pacaran emang sering dipertemukan editor, dalam buletin gaulislam yang kita cintai ini. Tujuannya tentu ada. Yup, agar para remaja benar-benar ngeh kalo pacaran itu emang bukan budayanya remaja muslim. Pacaran itu nggak nyeni banget dilakuin remaja muslim, dan sekali haram, pacaran tetaplah haram, titik teu dikomaan (baca: titik yang nggak pake koma lagi).
Wah ngotot banget nih, gaulislam bahas tentang pacaran terus. Sstt… habisnya, suka sad-sad gitu kalo lihat remaja yang pacaran, tapi sebenarnya mereka tahu hukumnya haram, padahal nih para aktivis rohis udah panas tenggorokan, pada serak ngasih tahu nggak bosan-bosannya. Selebaran pun bertebaran, mading sampe jamuran. Semua berisi dengan tulisan “Say No To Pacaran”. Begitupun di masyarakat, banyak majelis taklim remaja yang teriak-teriak bahwa pacaran itu haram. Oya, bukan cuma itu, kekeliruan remaja memahami konsep cinta pun sering jadi alasan. Padahal nih ayat udah ngolotok banget alias udah hapal di luar kepala kayaknya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”(QS al-Israa’ [17]: 32)
Semua hal yang mendekati zina tentu itu harus kita jauhi. Nggak pakai alasan-alasan lagi.

Ta’aruf, atau pacaran terselubung?
Ada nggapan ngawur bahwa kalo remaja nggak pacaran siap-siap dibilang katro, norak, nggak laku dsb. Jadi seolah pacaran bagi remaja adalah sebuah hal yang perlu. Anak SD pun udah banyak yang pacaran. Hancur deh generasi di hadapan mata, semua sibuk dengan urusan naluri cinta namun diekspresikan melalui jalan yang menyimpang, atau tepatnya melalui aktivitas yang namanya pacaran.
Bro en Sis, padahal kan justru yang ngelakuin pacaran itu bisa dibilang katro, karena pacaran itu kan bukan budaya dari Islam. Islam melarang aktivitas pacaran, tapi untuk memenuhi naluri melestarikan keturunan, rasa cinta itu diberi ruang untuk mengekspresikannya melalui  pintu pernikahan. Bener Bro en Sis: pacaran itu hubungan terlarang, sementara nikah itu ikatan yang halal.
Nah, ini adalah masalah lagi nih. Bener. Kekeliruan pun kian banyak terjadi. Saat banyak yang ‘sadar’ pacaran itu haram, tetep aja setan belum puas ganggu manusia. Maka akibatnya, setan ngasih jebakan baru, sehingga orang mencari jalan lain yang dianggap aman dan halal—menurut hawa nafsunya.
Apa buktinya? Yup, jadinya ngakalin. Dalam Islam kan dikenal istilah ta’aruf, istilah inipun akhirnya diselewengkan oleh aktivis pacaran sebagai suatu hal yang mirip dengan pacaran. Padahal, keliru banget. Ta’aruf yang mereka lakuin adalah ta’aruf yang terkontaminasi dengan hawa nafsu yang dikemas dalam hubungan gelap bernama pacaran. Modus yang mengecewakan, Bro en Sis. Padahal ta’aruf itu adalah suatu tahap yang ada dalam proses khitbah (baca: meminang—yang sudah serius ke arah pernikahan). Jadi khitbah dulu baru ada tahap ta’aruf di situ—tentu saja dengan syarat-syarat yang ketat, seperti nggak boleh berduaan meskipun udah khitbah. Kalo sudah khitbah berarti sudah siap menikah, karena khitbah itu berupa pinangan seorang lelaki kepada wanita melalui permohonan resmi kepada orang tua si wanita dengan tujuan untuk menikahinya. Nah, kalo belum siap buat nikah? Ya, itu berarti bukan ta’aruf itu mah, tapi pacaran terselubung pake kedok ta’aruf. Parah!
Jadi, plis deh kawan. Kamu yang masih ngotot bahwa dirimu sedang ta’aruf tapi nyatanya terselubung jadi pacaran, segera nyadar sebelum ajal datang. Sterilkan dari hal-hal yang akan menjerumuskan pelaku ta’aruf ke hal-hal yang hina dari mendekati zina atau malah zina yang sesungguhnya.

Remaja dan cinta
Remaja, adalah masa yang katanya “serba transisi”. Peralihan dari anak-anak jadi dewasa dengan pemikiran yang mulai berjalan secara bercabang-cabang dengan tujuan yang katanya untuk mencari jati diri. Waduh, nih lebay nulisnya ya, belibet pula kayak gini. Yup, intinya masa remaja itu juga ditandai dengan memperhatikan penampilan agar terlihat sempurna. Nggak ketinggalan, rasa-rasa sumringah berwarna pink atau yang kita kenal virus merah jambu ini pun tak dipungkiri mulai menempati posisi tersendiri dalam rona kehidupan remaja. Bener kan? Kamu ngerasain juga? Hehehe. Sama.
Perasaan cinta yang menghampiri itu emang naluri, namun tidak berarti kita bebas memuaskan naluri melestarikan keturunan itu diwujudkan dengan pacaran atau dengan hal-hal yang kita inginkan menurut hawa nafsu kita yang masuk kategori mendekati zina atau malah berzina. Naudzubillah min dzalik.
Nah, dalam Islam tentu kita (seharusnya) tahu banyak tentang syariat Islam yang bisa cegah manusia dari zina. Jadi, ‘rasa cinta’ adalah fitrah, namun pemuasannya adalah pilihan. Maka, tentukanlah sekarang Bro en Sis, mau ikut aturan siapa? Nurut sama aturan Allah Ta’ala atau ikutan aturan selain Islam dengan ngelakuin pacaran? Tapi tentu ada konsekuensinya dari setiap pilihan. Milih pahala atau dosa?
Sobat muda muslim, kalo boleh ngasih tips nih ya, tentu sebagai mahluk Allah Ta’ala kita tentu yakin akan adanya hari perhitungan (yaumil hisab). Daripada di akhirat sengsara karena nyoba pacaran, ya mending ikut aturan Allah yang tentu menyelamatkan. Ikut aturan Allah Swt adalah tanda kita beriman seratus persen padaNya, juga bukti cinta kita padaNya.
Bro en Sis, pembaca setia gaulislam, aturan Allah Ta’ala sudah pasti ada hikmah dan manfaatnya. Jadi, jangan ngerasa rugi ketika kita memutuskan taat pada Allah, karena bagaimanapun kita ini manusia, kawan. Kita tidak tahu apa yang terbaik buat kita, maka jadikanlah Allah yang Mahatahu segalanya sebagai rujukan aktivitas yang kita lakukan.

Cinta Islam sampai mati
Rasa cinta memang naluri, Islam sangat tegas dan jelas menentukan aturan terhadap rasa cinta yang dimiliki manusia. Sssttt.. bukan berarti Islam mengekang manusia lho, justru ini tanda Islam peduli umatnya. Tanda Allah Ta’ala cinta hambaNya. Agar manusia nggak jatuh terjerumus pada hal-hal yang menghinakan dan juga menyengsarakan manusia.
Oya, dilarang ngelakuin pacaran itu, bukan berarti kita terlarang punya cinta. Kita bisa tetep punya cinta kok. Kita bisa salurkan rasa cinta ini pada suatu hal yang benar dan baik. Tentu saja cinta yang diekspresikan sesuai tuntunan Allah Swt dan RasulNya.
Eh, ngomong-ngomong tentang subjudulnya yang ‘cinta Islam”, apa sih maksudnya? Hmm.. ini nih ada ayat dalam al-Quran yang patut kita perhatikan dan renungkan, “Katakanlah ,’Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih amu cintai dari pada Allah dan RasulNya dan (dari) Jihad di JalanNya , maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya.” Dan Allah tida memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.(QS at-Taubah [9]: 24)
Bro en Sis rahimakumullah, masa remaja yang katanya enerjik dan penuh semangat, sebenarnya bisa diarahkan jadi pengemban obor perjuangan. Namun, amat disayangkan bagi remaja yang enggan berjuang untuk Islam. Ayolah, jangan sibuk ngejar cinta birahi terhadap lawan jenis yang buat kita terhina—karena cara ekspresinya nggak halal. Seharusnya kita bisa sibuk memperjuangkan Islam, sibuk mencari ilmu Islam, itulah bukti bahwa kita punya cinta, cinta pada Islam!
BTW, kalo kamu nggak pacaran pun, tenang aja soal jodoh. Jangan takut nggak dapet jodoh atau khawatir jodoh yang kita dapat bukan jodoh yang terbaik. Sebab, Allah Ta’ ala sudah tentuin jodoh kita masing-masing. Termasuk seperti apa jodoh kita kelak. Baik atau buruknya, tergantung pribadi kita juga lho. Firman Allah Swt., “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS an-Nuur [24]: 26)
So, berdoalah pada Allah agar kita diberikan jodoh terbaik. Tentunya kita pun aktif perbaiki sikap kita agar jadi pribadi yang senantiasa bertakwa pada Allah Swt. Tetap konsisten dalam Islam, dan tentu saja tetap taat pada Allah. Salah satunya nih, dengan menahan gejolak cinta yang telah Allah berikan. Tahan dan kendalikan sampai waktunya tiba, yakni saat kita halal dengan seorang yang telah ditentukan Allah sebagai jodoh kita melalui pernikahan. Itulah bukti kita masih punya cinta.
Oke deh, keep smile, hamasah buat kamu semua, pembaca setia gaulislam. Oya, jika cinta Allah sudah didapat, maka insya Allah surga pun bisa kita raih. Itulah janji Allah. FirmanNya, “Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugrahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shidiqien, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa[4]: 69)
Yuk, pastikan kamu tetap memiliki cinta meski tidak kamu wujudkan dalam pacaran. Stop pacaran! Taat dan takutlah hanya pada Allah Ta’ala. Insya Allah, semua akan indah pada waktunya, yakni nanti dalam pernikahan. Sekarang? Fokuslah belajar, Bro en Sis!

usir sifat kikir !!!

usir sifat kikir !!







Kamu kayaknya pada tahu deh istilah yang satu ini ya? Yup, kikir (taqtîr, bakhil) adalah mencegah diri untuk menginfakkan harta dalam perkara yang wajib. Misalnya nih, seseorang tidak membayar satu dirham dari ketentuan zakat mal yang wajib dikeluarkannya, atau tidak menafkahi orang-orang yang wajib dia beri nafkah, maka ini adalah kikir. Hukumnya adalah haram, lho. Bayar zakat kudu pas dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh hukum syara (aturan Islam) mengenai masalah tersebut. Sama seperti halnya ayah kita yang posisinya adalah sebagai orang yang wajib memberi nafkah bagi keluarganya (istri dan anak-anaknya), eh ternyata ayah kita ngak mau menafkahi, berarti ayah kita masuk kategori kikir alias bakhil.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, harap dibedakan ya, kalo misalnya kita belum bisa ngasih shadaqah kepada teman kita itu bukan bakhil namanya. Apalagi kalo kita sendiri belum mampu, meski kondisinya mampu, tapi tetap bukan berarti bakhil (karena shadaqah hukumnya sunnah, bukan wajib). Cuma emang bisa dinilai nggak peduli aja dengan sesama. Tidak sampai haram tapi tentu aja kurang baik juga kesannya.

Harta kita
Sebelum membahas tentang kikir alias bakhil lebih jauh, kita kayaknya perlu membahas sedikit tentang membelanjakan harta kita. Ya, sebagaimana kita boleh mencari harta, maka tentunya boleh dong untuk membelanjakannya, mengeluarkannya atau memanfaatkannya. Sama seperti ketika mencarinya, harta yang dicari wajib dengan cara yang halal, maka membelanjakannya atau memanfaatkannya juga wajib di jalan yang halal. Termasuk dalam hal ini adalah mengelola atau mengupayakan pengembangan harta, pastikan juga di jalan yang halal. Firman Allah Swt. (yang artinya): “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.”(QS al-Israa [17]: 26-27)
Juga firman Allah Swt. (yang artinya): Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS al-Furqan [25]: 67)
Mengenai kedua ayat ini, perlu kamu tahu istilah israf (berlebih-lebihan) dan tabdzir (penghambur-hamburan) nih. Arti kata saraf dan israf—menurut makna bahasa adalah melampaui batas serta i’tidal, lawan dari kata qashdu. Sedangkan kata tabdzir dipergunakan dalam kalimat: badzara al-mal tabdziran (menghambur-hamburkan harta), maknanya satu akar kata dengan israfan dan badzaratan. Keduanya, yaitu kata israf dan tabdzir, menurut makna syara’ berarti menafkahkan harta untuk perkara-perkara yang telah dilarang Allah. Sedangkan untuk perkara-perkara yang diperintahkan, baik sedikit maupun banyak, bukan termasuk israf maupun bukan tabdzir. Setiap bentuk nafkah (pengeluaran) untuk perkara yang dilarang Allah, baik sedikit maupun banyak adalah israf dan tabdzir (menurut makna syara’) (lihat Islam, Dakwah, dan Politik, Pustaka Thariqul Izzah, 2002, hlm. 198)
Kalo pengen beli barang-barang, pastikan barangnya halal dan bermanfaat. Silakan aja, gitu lho. Jadi meski itu uang kita sendiri, tapi kalo dibelanjakan untuk ngebeli narkoba atawa miras, berdosa lho walaupun jumlah harta yang dikeluarkan buat beli narkoba tuh sedikit. Itu udah termasuk israf dan tabdzir. Why? Karena kita membelanjakan atau memanfaatkan harta di jalan yang haram. Kalo pun mau usaha untuk mengembangkan harta kita, pastikan usahanya yang halal. Jangan sampe sesuka hawa nafsu kita dengan pertimbangan keuntungan secara materi. Itu sebabnya, dalam Islam dilarang banget mengembangkan harta dengan membuka usaha pelacuran, rumah judi, atau jadi bandar judi togel, membuka pabrik miras dan narkoba.
Oya, termasuk kalo kita mendermakan harta, jangan di jalur yang haram. Wajib di jalan yang halal. Itu sebabnya, nggak boleh banget ngasih sumbangan dari harta kita untuk membantu usaha judi togel atau pagelaran konser musik yang udah pasti mengandung banyak maksiat di dalamnya.
Pastikan bahwa ngasih sumbangan atau bersedekah alias berinfak tuh di jalan yang halal agar harta kita membawa berkah dan pahala bagi kita. Sebagaimana banyak dicontohkan oleh para sahabat dan salafus shalih terdahulu.
Sobat gaulislam, sekadar contoh aja nih, tentang infaknya Abdurrahman bin Auf. Imam Ahmad mengeluarkan hadis dari Anas ra yang berkata: Ketika Aisyah ra sedang berada di dalam rumahnya, ia mendengar suara (gaduh) di Madinah, sehingga bertanya: Ada apa ini? Orang-orang menjelaskan: Unta-unta Abdurrahman bin Auf baru datang dari wilayah Syam dan membawa barang (hasil) dagangannya. Dituturkan: Unta-unta itu sekitar tujuh ratus ekor. Dituturkan: Maka kota Madinah pun ramai dengan kegaduhan. Aisyah ra berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Aku melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan cara merangkak.
Perkataannya itu sampai kepada Abdurrahman bin Auf, seraya berkata: Seandainya memungkinkan aku ingin masuk surga dengan berjalan. Setelah itu ia menginfakkan seluruh unta-unta (yang baru datang tersebut) beserta dengan hasil perdagangan yang diangkutnya di jalan Allah. (Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (juz 1/98) dari Anas ra.)
Abu Nu’aim (dalam al-Hilyah., juz 1/99) mengeluarkan hadits dari az-Zuhri yang berkata: Pada masa Rasulullah saw, Abdurrahman bin Auf pernah menginfakkan separuh dari hartanya, setelah itu menginfakkan empat ribu dirham, kemudian menginfakkan lagi empat puluh ribu dirham, lalu empat puluh ribu dinar, kemudian menyerahkan lima ratus ekor kuda perang di jalan Allah, setelah itu menyediakan seribu lima ratus hewan tunggangan di jalan Allah. Seluruh hartanya itu diperoleh dari hasil perdagangannya.
Bro en Sis rahimakumullah, kita bisa belajar dari sikap dermawannya Abdurrahman bin ‘Auf. Subhanallah, seperti nggak itungan. Pokoknya jumlah harta halal yang dikeluarkan untuk infak di jalan Allah Swt. sangatlah besar. Ini menjadi teladan kita untuk melakukan hal serupa jika kita memang memiliki kemampuan dari segi harta.

Bakhil alias kikir
Bro en Sis rahimakumullah, sifat bakhil ini juga bisa menjadi perusak keikhlasan kita. Niat awal kita sudah baik untuk menginfakkan harta dalam perkara yang wajib, tapi dalam kondisi tertentu karena adanya sifat bakhil dalam diri kita akhirnya nggak jadi melakukan itu. Kita mungkin berpikir, “ngapain juga menginfakkan harta untuk bayar zakat, nanti berkurang!” Atau malah kita ngakalin supaya nggak bayar zakat dengan cara membelanjakan harta kita buat keperluan lain supaya nggak masuk nishab (baik jumlah maupun waktunya) bayar zakat mal. Oya, harta yang dimilikinya itu adalah harta lebih dan di luar kebutuhan sehari-harinya (makanan, pakaian, kebutuhan belanja, kendaraan dan untuk kerluan pekerjaan). Jadi murni harta “nganggur” istilahnya deh. Ya, tabungan kita lah.
Nah, masalahnya adalah ketika kita sudah terkena kewajiban zakat maal misalnya (karena nishabnya tercapai), maka seharusnya sudah siap-siap melakukan kewajiban bayar zakat sebesar 2,5% ketika haulnya terpenuhi. Tetapi, kita malah ngakalin dengan cara sebelum batas haul itu terpenuhi, harta kita justru dibelanjakan sehingga berkurang dari nishab tersebut untuk sesuatu yang sebetulnya tidak perlu dan tidak mendesak dengan niat utuk menghindari supaya nggak bayar zakat mal. Waduh, itu namanya bakhil. Dosa euy!
Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Ali Imran [3]: 180)
Juga dalam Firman Allah Swt (yang artinya): “yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.” (QS an-Nisaa’ [4]: 37)
Sobat muda muslim, sifat kikir bin bakhil ini memang konsekuensinya berat banget. Bukan hanya merusak keikhlasan kita, tapi juga bisa menjatuhkan kita ke dalam dosa. Sifat bakhil ini kalo terus bersemayam dalam pikiran dan perasaan kita, niscaya kita nggak mau menginfakkan harta kita untuk kewajiban. Kita tahan terus dengan alasan yang kita buat-buat. Itu juga udah menunjukkan bahwa kita nggak ikhlas dalam melakukan suatu kewajiban karena lebih mementingkan hawa nafsu ketimbang pahala dari Allah Swt. Seolah merasa bahwa kita memiliki harta adalah dari usaha pribadi kita semata. Padahal, Allah Swt. yang memberikan banyaknya harta tersebut kepada kita. Wah, jangan sampe deh seorang muslim memiliki sifat bakhil yang menghantarkannya kepada keharaman dan bukan hanya menodai keikhlasan kita dalam beramal. Naudzubillahi mindzalik.
Ada baiknya kita renungkan sabda Rasulullah saw. (yang artinya): “Peliharalah dirimu dari kezaliman, karena sesungguhnya kezaliman itu merupakan kegelapan-kegelapan pada Hari Kiamat. Dan peliharalah dirimu dari sifat kikir karena sifat kikir itu telah membinasakan umat-umat sebelum kamu, dan mendorong mereka melakukan pertumpahan darah serta menghalalkan semua yang diharamkan oleh Allah.” (HR Muslim dari Jabir ra.)
Rasulullah saw. pun mengajarkan kita untuk berdoa seperti ini (yang artinya): “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari lemah hati dan bakhil.” (HR Bukhari dan Muslim)
Salman al-Farisy, salah seorang sahabat Nabi saw. berkata, “Jika orang dermawan meninggal dunia, maka bumi dan para malaikat penjaganya berkata, ‘Ya Rabbi, lepaskanlah urusan dunia dari hambaMu karena kedermawanannya’. Jika orang bakhil meninggal dunia, maka bumi berkata, ‘Ya Rabbi, halangilah orang ini dari surga, sebagaiman hambaMu ini menghalangi apa yang di tangannya dari keduniaan.” (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin (terj.), hlm. 259)
Semoga kita semua terhindar dari sikap bakhil ini ya. Semoga Allah Swt. memudahkan kita untuk mengeluarkan harta yang memang sudah menjadi kewajiban kita. Semoga juga para pemimpin negeri muslim tidak kikir (bakhil) untuk memberikan harta kekayaan negara kepada rakyatnya—yang memang sudah seharusnya rakyat dapatkan. Sungguh ironi, negeri kita ini adalah negeri muslim terbesar dan kaya dengan sumber daya alamnya tetapi pemimpinnya justru memberikan kekayaan itu kepada pihak asing dan membiarkan rakyatnya miskin. Ini sih zalim dong ya

apa itu ta'aruf

 apa itu ta'aruf




Secara bahasa ta'aruf bisa bermakna ‘berkenalan’ atau ‘saling mengenal’. Asalnya berasal dari akar kata ta’aarafa. Seperti ini sudah ada dalam Al-Qur’an. Simak saja firman Allah (yang artinya),
“Hai manusia sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang pria dan seorang wanita, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal (ta’arofu) ...” (QS. Al Hujurat: 13).
Kata li ta’aarafuu dalam ayat ini mengandug makna bahwa, aslinya tujuan dari semua ciptaan Allah itu adalah agar kita semua saling mengenalyang satu terhadap yang lain. Sehingga secara umum, ta’aruf bisa berarti saling mengenal. Dengan bahasa yang jelas ta’aruf adalah upaya sebagian orang untuk mengenal sebagian yang lain.
Jadi, kata ta’aruf itu mirip dengan makna ‘berkenalan’ dalam bahasa kita. Setiap kali kita berkenalan dengan seseorang, entah itu tetangga kita, orang baru atau sesama penumpang dalam sebuah kendaraan umum misalnya, dapat disebut sebagai ta’aruf. Ta’aruf jenis ini dianjurkan dengan siapa saja, terutama sekali dengan sesama muslimuntuk mengikat hubungan persaudaraan. Tentu saja ada batasan yang harus diperhatikan kalau perkenalan itu terjadi antara dua orang berlawanan jenis, yaitu pria dengan wanita. Untuk itu umat islam sudah menganjurkan memberlakukan hijab bagi wanita muslimah, yang bukan hanya berarti selembar jilbab dan baju kurung yang menutupi tubuhnya dari pandangan pria yang bukan mahram, tapi juga melindungi pergaulannya dengan lawan jenis yang tidak diizinkan syari’at. Contoh dari pergaulan yang tidak diizinkan syari’at ini ialah berduaan atau bercampur-baur antara beberapa orang yang berlainan jenis dalam satu tempat secara berbauran, pergi bersama pria yang bukan mahram, dan berbagai hal lain yang dilarang syari’at. Semua itu tidak otomatis menjadi halal bila diatasnamakan ta’aruf.
Ta’aruf atau perkenalan yang dianjurkan dalam islam adalah dalam batas-batas yang tidak melanggar aturan islam itu sendiri. Kalau dalam soalan makan, minum dan berpakaian saja islam memiliki aturan yang harus dijaga, misalnya tidak sembarang makan dan minum itu halal, dan tidak sembarang pakaian boleh dipakai, maka untuk hal-hal lain yang lebih kompleks islam tentu juga memiliki aturannya. Adab pergaulan, adab berkenelan, adab mengenal sesama muslim, juga memiliki aturan yang harus diperhatikan. Jadi jangan sekali-kali mencampuradukkan antara anjuran berkenalan atau mengenal sesama muslim dengan larangan-larangan agama seputar proses berkenalan tersebut. Bila dilakukan, maka hal itu sama saja dengan mencampuradukkan antara makanan halal dengan haram, dengan dalil karena manusiahidup harus makan, dan bahwa makan minum itu boleh dilakukan diluar puasa.
Kemudian dalam makna khusus proses pengenalan sesorang terhadap pria atau wanita yang akan dipilih sebagai pasangan hidup sering juga disebut sebagai ta’aruf. Sebagai istilah ta’aruf tentu saja bebas nilai, sampai ada hal-hal yang memuat aplikasi dari hal-hal yang dianjurkan atau diwajibkan, atau sebaliknya, justru hal-hal yang tidak baik atau dilarang. Sejauh yang kami tahu, ungkapan ta’aruf ini tidak pernah disebutkan sebagai istilah khusus sengan arti perkenalan antar dua orang berlainan jenis yang ingin menjajaki kecocokan sebelum menikah. Karena tak ada penggunaan istilah yang sama untuk makna tersebut, maka sekali lagi kata ta’aruf ini masih bebas dinilai. Dan karna bebas nilai inilah, maka aplikasi ta’aruf ini pun bisa ditarik ulur menjadi nilai-nilai yang dianjurkan atau bahkan diwajibkan, atau sebaliknya, justru menjadi nilai-nilai yang dilarang dan diharamkan.

mahasiswa "dunia-akhirat"

mahasiswa "dunia-akhirat"




Waduuuh… kayaknya kamu yang doyan metal pagi ini masih ada yang ngantuk gara-gara nonton konser Metallica semalam ya. Ckckckck.. ngenes juga sih kalo sampe lupa semuanya, termasuk nggak shalat gara-gara bela-belain nonton konser Metallica. Miris juga kalo ngeliat betapa antusiasnya remaja (dan juga remaja generasi 90-an alias yang udah pada tua untuk ukuran jaman sekarang) tumplek-blek di Gelora Bung Karno untuk jejingkrakan bersama band metal asa Los Angeles itu (kalo ke tempat pengajian gitu nggak ya?). Nah, meski demikian, tentunya ada juga remaja dan mahasiswa yang nggak ikut-ikutan menjerumuskan dirinya di arena tersebut. Selamat buat kamu yang masih istiqomah di jalan Islam.
Bro en Sis penggila gaulislam, meski udah lewat penerimaan mahasiswa baru secara nasional, lewat SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang  seleksi mandiri di perguruan tinggi swasta, namun gaulislam mau bahas ah. Bukan soal gimana ujiannya tentu, tetapi gimana kiprah masa depan kamu sebagai mahasiswa muslim.
Kalo sekarang udah jadi mahasiswa, tentu bukan saatnya main-main lagi (sebenarnya dari SD sampe sekarang juga udah nggak main-main soal pendidikan dan masa depan). Bro en Sis, masa kuliah adalah masa penentuan spesifikasi masa depan kamu. Ya, meskipun nggak sedikit juga orang yang salah ngambil jurusan. Atau pekerjaan yang didapat setelah lulus kuliah, nggak sesuai dengan jurusannya. Tetapi yang pasti, kehidupan harus terus berjalan dan banyak hal yang tetap bisa kamu lakukan untuk masa depan keluarga, karir dan tentunya dakwah serta perjuangan Islam juga dong. Jadilah mahasiswa “dunia-akhirat” yang emang harus berprestasi dengan benar dan baik demi kehidupan di dunia dan juga mencari bekal untuk kehidupan akhirat kelak.

Pilih sesuai minatmu
Emang sih, kalo sekarang udah telat nulisnya. Hehehe.. soalnya pasti kamu udah nentuin pilihannya dan udah keterima di fakultas idaman kamu semua. Tetapi bagi yang kebetulan saat ini memilih mau kerja dulu atau masih mikir-mikir antara kerja dan kuliah, ya jadikan celotehan saya di tulisan ini sebagai panduan. Bisa juga buat kamu yang ingin masuk ke perguruan tinggi swasta masih ada waktu buat milih bidang keahlian sesuai minatmu.
Ini harus direncanakan lho. Biasanya, sebelum UN siswa galau tingkat galaxy dengan UN nya. Tapi, setelah UN berakhir, justru beban itu malah nambah berat. Sebab, doi pasti kebingungan bakal nerusin kuliah di mana, jurusan apa, tesnya susah, apalah segala macem. Ampe, numbuh jerawat tuh mikirin gituan doing. *lebay
Sebenernya sih, masalah-masalah yang bikin galau calon mahasiswa baru itu, bukan hal yang harus jadi beban. Sebab, kita juga jangan menyingkirkan peran Allah Swt. Sebagai penentu kehidupan kita di masa depan, Allah maha tahu. Jadi, kita juga mesti minta petunjuk yang terbaik padaNya.
Terus, sebelum memilih dari pilihan-pilihan yang banyak di hadapan kita itu, kita juga harus nentuin dulu, “mau jadi apa kita di masa depan?”. Nah, caranya adalah dengan mengenali potensi yang ada dalam diri kita, belajar sedikit demi sedikit bidang yang kita ingin capai. Ya, minimal kenalan dulu lah sama bidang yang mau kita geluti. Kemudian, kita  harus pantaskan diri kita juga dengan cita-cita yang kita ingin capai. Kalo kamu pengen jadi tenaga kerja siap pakai berarti milih ambil teknik misalnya komputer, desain grafis dan sejenisnya. Boleh juga ambil kursus dah.
Oya, yang paling penting, yang harus diingat nih, kuliah itu bukan ajang buat ngejar IPK gede buat nyari kerja. Beberapa perusahaan mungkin masih peduli dengan nilai di IPK, tetapi banyak juga perusahaan yang udah mulai ninggalin soal itu. Mereka lebih memilih calon karyawan yang skill-nya nggak jeblok-jeblok amat, tetapi memiliki attitude alias sikap yang bagus. Dunia kerja bukan cuma butuh hard skill, tapi juga butuh soft skill. Kalo kuliah cuman buat ajang gaya-gayaan?. Siap-siap bangkrut di masa depan. Kuliah capek-capek tapi nggak dapat kehalian yang diinginkan karena kebanyakan main-main. Akur? Tos dah!

Jadi mahasiswa berprestasi
Jadi mahasiswa berprestasi itu bukan cuma karena IPK dengan predikat cumlaude atau di atasnya ya Bro en Sis. Sebab, kalo isi otak kita apa yang ada di buku semua, itu belum cukup buat kamu jadi mahasiswa berprestasi yang sesungguhnya.
Sobat gaulislam, misalnya aja kamu bisa nentuin bahwa mahasiswa berprestasi itu, harus jadi idaman dosen, idaman kelas, keluarga, dan yang paling utama diridhoi Allah Swt. Sebab, kepribadian seseorang itu nggak dapet ditentuin dari text book. Tapi, sebagai muslim, kepribadian kita harus terbentuk dari keseimbangan antara pola pikir dan pola sikap yang islami.
Aplikasi dari kriteria mahasiswa berprestasi, kita harus ngerti dunia kampus yang nggak cuma jadi tipe mahasiswa kupu-kupu (kuliah pulang, kuliah pulang). Tetapi cobalah kamu gaul ama mahasiswa lainnya dan gabung dengan berbagai komunitas di dalamnya. Tentu saja komunitas atau organisasi yang bermanfaat. Sebab, nggak bakal dapet bagaimana caranya membuat proposal dengan baik dan benar, nyari donatur acara, gimana caranya melobi sponsor—yang semua itu dibutuhkan di dunia kerja dan di masyarakat nantinya, tanpa kita ikut kegiatan organisasi kampus. Sebab, perusahaan atau masyarakat juga bagian dari organisasi. Sehingga, di kampus adalah kesempatan buat kamu bisa belajar berorganisasi, nggak cuma kuliah doang.
Bro en Sis, kita juga nggak bakal dapet ilmu agama yang mempuni, dari mata kuliah yang cuma 2 SKS selama masa perkuliahan berlangsung. Padahal, ilmu agama bisa mendorong kecerdasan kita lho. Islam juga bisa dorong kita buat terus belajar, berpikir cemerlang, dan berkhlak mulia. So, kita jangan mau diperbudak sama ilmu yang hanya berorintasi kerja aja atau urusan dunia lainnya.
Nah, yang oke itu, tawazun atau seimbang antara bekal dunia dan akhirat. Islam nggak melarang kita buat nyari kehidupan dunia, tetapi dunia bukan tujuan utama, hanya sebatas pelengkap agar kita bisa menikmati kehidupan ini dan mendukung amal shalih yang kita lakukan. Di kampus, kita bisa bertawazun dengan cara aktif mengikuti kegiatan kampus. Apalagi, mahasiswa itu biasanya kreatif-kreatif lho, di kampus saya juga nggak kehitung deh berapa banyak organisasi yang ada, dari mulai resmi sampe underground ada.
Nah, bagi kita-kita nih remaja muslim, kita mestinya ikutin kegiatan kampus yang membahas keislaman, supaya kita bisa dapet ilmu-ilmu Islam, sebagai penyeimbang dan untuk mencapai ridho Allah.

Kuliah yes, dakwah yes!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kuliah itu amanah dari orang tua kita, yang ingin melihat anak-anaknya bahagia di masa depan. Itu sebabnya, kita juga jangan menyepelekan, apalagi mengabaikan kewajiban kamu dalam belajar. Sebab, itu bisa membahatakan masa jabatanmu sebagai mahasiswa. Namun demikian, dengan aktif di kelas, jangan jadi alasan kita lupa amanah dari Allah untuk menyebarluaskan Islam dengan dakwah.
Dakwah jangan dianggap sebagai beban, justru dakwah adalah sebuah keistimewaan yang diberikan Allah pada kita. Allah Swt. berfirman: “Kalian adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan bagi manusia, kalian menyuruh (berbuat) kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran dan kalian beriman kepada Allah.” (QS Ali Imran [3] : 110)
Jangan pernah, kita berfikir. Saat jadi aktivis dakwah kuliah jadi terbengkalai. Itu salah besar, sebab Islam tidak mengajarkan hal itu. Islam mengajarkan kita untuk terus merenungi ayat-ayat Allah agar kita berfikir. Ilmuwan-ilmuwan muslim pada masa kejayaan Islam, selain mereka seorang ilmuwan yang berkrya di bidang iptek, banyak di antara mereka juga merupakan para mujtahid. So, nggak jadi alasan buat kita jadi unggul dalam beberapa bidang tetapi matang dalam ilmu keislaman. Keren!

Merancang target sejak dini
Buat eksis dalam keilmuan, solusinya ada pada kedisiplinan kita mengatur waktu agar kegiatan kita jadi lebih efektif dan efisien. Sebagai mahasiswa yang juga aktivis dakwah, kita kudu bisa ngatur jadwal kita di kelas, dakwah, dan posisi kita sebagai anak di keluarga. So, perlu ada target yang kudu dicapai dengan merealisasikan hal-hal berikut.
Pertama, jadi yang unggul di kelas. Meski kesibukan mendera, jangan sampai kelas kita jadi korban. Kalo kebetulan nggak bisa masuk kelas kamu kudu siap dengan konsekuensinya, tetapi bukan karena malas, tetapi karena ada alasan yang syar’i (sakit, urusan keluarga) dengan surat izin. Terus, kalau memang dosen nya “lumayan” usahakan tetep masuk. Hehehe.. lumayan apa ya? Kamu tahu deh maksud saya.
Deketin temen yang sering masuk, biar bisa nanya-nanya masalah tugas, dan berusahalah buat beresin tugas-tugas yang diberikan dosen tepat waktu. Saat kita masuk kelas duduklah di barisan paling depan, biar dosen hapal wajah dan nama kita. Bener lho. Silakan dicoba. Namun alasan duduk di awal sebenarnya buakn soal itu, tetapi menunjukkan kamu siap mendapatkan ilmu dengan serius karena bisa lebih dekat menyimak penjelesan dosen.
Kedua, jadi anak yang berbakti. Sibuk kuliah bukan berarti melupakan orang tua, dan kewajiban mentaati mereka. Karena, gimanapun ridho Allah tergantung pada ridhonya mereka. Berikan kepada mereka pemahaman, bahwa kita adalah agent of change kearah yang lebih baik. Kita ingin jadi orang bermanfaat untuk umat ini. Dan kita harus buktiin ke ortu kita, kalo kesibukan dakwah nggak pengaruhi IP kita. Itulah pentingnya tanggung jawab.
Ketiga, buatlah cara mengatur waktu kita, biar nggak berantakan. Kita harus buat job desc dalam hidup kita. Bikin deh time line di setiap rutinitas kita. Itu buat nunjukkin keseriusan kita menuai keberhasilan masa depan kita. Terus, jangan lupain visi jangka pendek yang kita ingin capai ya. Biar masa depan kita jelas. Ayo mulai sekarang bikin ya!
Keempat, jadi pejuang Islam sejati. Tunjukin identitas kita sebagai pemuda  pejuang Islam sejati. Muslim yang selalu berpegang teguh pada al-Quran dan as-Sunnah. Memperjuangkan Islam, giat menghadiri majlis-majlis ilmu. Mahasiswa yang menjadikan surga sebagai visi yang harus dicapainya dengan mencari ridho Allah.
Sobat gaulislam, Islam memiliki banyak pejuang, dan akan selalu ada. Semoga kamu satu di antaranya. Namun, tak semua dapat bertahan mempemperjuangkan Islam. Hanya orang-orang pilihanlah yang akan bertahan. Sebab hidup adalah pilihan. Pilihan untuk menjadi lebih baik dengan Islam atau terhina karena meninggalkan Islam.
Oke, semangat saudaraku. Kalian adalah generasi pejuang Islam selanjutnya. Jadikan peran kamu sebagai mahasiswa untuk menunjukkan betapa dakwah tetap menjadi prioritas kewajibanmu. Jadilah mahasiswa ‘dunia-akhirat’—memikirkan kehidupan dunia sekaligus masa depan di akhirat. Semangat!

cantikmu alihkan dunia

 cantikmu alihkan dunia



Woohh… lebay banget judulnya. Yup, it’s real!  Cantik itu nggak relatif. Tapi pasti. Makhluk-makhluk cantik kalo udah eksis di tempat umum, dijamin para pria bakal pada noleh semua dan teralih perhatiannya. Abang jualan bakso yang lagi dorong gerobak bakal kejeblos lobang di jalan gara-gara nggak nyadar lagi, cowok-cowok yang lagi jalan atau jogging pun bakal kebentur tiang listrik (hahaha…)
Salahkah perempuan menjadi cantik? Nggak dong. Kalo tampan ya jelas masalah. Hehehe.. Tapi beneran, kalo udah dari sononya punya wajah juga bodi yang proporsional, ‘enak’ diliat  itu udah qadha Allah alias ketetapanNya. Jadi nggak ada dosa bagi pemilik wajah cantik ini! You not a sinner because you look pretty, Girls.  Yang dosa, kalo kemudian menampilkan secara sengaja keindahan dan kemolekan kita (saya perempuan juga soalnya..) secara berlebihan (tabarruj) hingga menarik perhatian lawan jenis. Wajah dan tapak tangan memang bukan aurat tapi kalau dirias sedemikian rupa hingga menimbulkan syahwat bagi lawan jenis untuk memandang, wah.. be careful.  Ditambah lagi pakaian yang menonjolkan bagian-bagian tubuh yang merupakan aurat perempuan (selain wajah dan tapak tangan) nah itu yang termasuk dilarang Allah SWT (coba deh kamu buka al-Quran surah an-Nuur ayat 31).
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR Muslim no. 2128)
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, saya nemuin artikel di situs rumahcurhat.com dengan judul Standar Kecantikan, ini saya kutipkan satu paragrafnya: “Setiap tahun perusahaan kosmetik di seluruh dunia selalu ngeluarin produk kecantikan yang baru. Supaya produk mereka laku, mereka ngebentuk pola pikir masyarakat tentang standar kecantikan. Dan pastinya standar kecantikan yang dibentuk itu yang sesuai dengan produk mereka. Itu yang kita kenal sebagai tren kecantikan. Dengan sendirinya masyarakat, khususnya kaum hawa, berlomba-lomba ngikutin setiap tren yang disodorin perusahaan kosmetik. Nggak sedikit cewek-cewek menghabiskan uang, usaha dan waktu buat ngikutin tren kecantikan lho…”
Wah, gitu ternyata ya. Jadi kalo rame-rame iklan kosmetik atau jasa perawatan tubuh dan wajah nawarin mutihin kulit, bodi langsing, sulam bibir—alis—garis mata, mata belo warna-warni dengan lensa kontak .. that’s what they call ‘pretty’. Waduh! Mas Bruno Mars aja bilang “Cause you’re amazing, just the way u are” terus mbak-mbak Cherybelle juga bilang “You are beautiful, beautiful, beautiful. Kamu cantik cantik dari hatimu”.  Tuuhh.. kenapa kita selalu merasa kurang?

Syukuri anugerah-Nya
Sobat gaulislam, dilahirkan sebagai perempuan, bersyukurlah. Dikasih kulit putih-bening, kuning langsat, imut alias item mutlak, bersyukurlah. Dikasih pipi chubby or sedang-sedang aja, ya santai aja. Dunia nggak bakal kiamat gara-gara pipi. Punya bodi semok, kurus, endut, ya alhamdulillah. Semuanya nih, yang penting harus diinget, dicatat, diresapi dan diamalkan nih. Apa tuh? Yup, jangan lupa untuk menjaga keimanan dan ketaatan kita kepada Allah Swt.
Oya, cara bersyukur yang benar gimana sih? Yup, cantik, langsing, putih memang nggak dosa. Nah, syukurilah dengan menutup aurat kita sesuai aturan Islam, yaitu berjilbab (semacam gamis) dan gunakan khimar (kerudung—penutup kepala). Selain itu, jaga deh kesehatan fisik kamu. Gimana coba kalo perempuan, apalagi muslimah yang jelas-jelas pasti ngeh kalo “kebersihan adalah bagian dari iman”, tapi sehari-hari bajunya kucel, aroma tubuhnya beraroma nggak sedap (dengan ngeles berhubung nggak boleh pake parfum), di wajahnya panuan, terus cepet letih, lemah dan lesu ..haduuh.. Piye to nduk.
So, mandi tetep dong, paling nggak  2 x sehari, jangan lupa sikat gigi, kalo keluar rumah usahakan pake pelindung matahari supaya wajah terhindar sunburnt, jilbab juga kalo aromanya udah nggak sedap ya digantilah, rambut dikeramas juga dikasih tonik dan vitamin supaya nggak rontok dan ketombean, terus jangan lupa jaga makanan dan minuman kita. Halal wa thayib wa barakah. Apa yang kita konsumsi wajib kita ketahui apa yang terkandung di dalamnya dan jelas kehalalannya. Olahraga? Yup, bersepeda, jalan kaki, nge-gym di tempat yang syar’i. Wuih, pokoknya ok banget semua itu. Catet dan ingat-ingat ya.
Bagaimana dengan menjaga keimanan? Nggak  cukup cuma shalat dan zikir serta tilawah Qur’an. Tetapi kita kudu intensif mengkaji dan memperbanyak pengetahuan kita akan ilmu Islam. Ooww.. Ya iya, sebab al-Quran dan as-Sunnah adalah panduan hidup kita. So, Islam itu dipelajari untuk diamalkan dalam kehidupan. Selain itu, buat kamu yang muslimah tentu gaulnya kudu dengan wanita-wanita shalehah. Insya Allah, they bring u into the good life. Hmm… selain itu, kita kudu berdakwah, paling nggak sampaikan walau satu ayat dari yang kita pelajari dalam Islam. Memang efeknya berat. Bakal dikatain sok alim, sok suci. Tapi itulah ‘ tanda cinta’ kita kepada sesama.
Benar lho. Sebab yang penting nih, nasehat dan tindakan kudu seimbang. Nggak omdo (alias omong doang) hehehe.. Selain itu walaupun kita bukan Miss World, Miss Universe apalagi Miss Understanding (hahaha…) yang namanya jiwa sosial dalam Islam itu udah jelas kudu hadir dalam diri kita. Itu sebabnya, kita rajin sedekah, infak serta zakat juga akan ‘mempercantik’ diri kita. Sumpah!

Muslimah inspiratif
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, menurut saya muslimah yang inspiratif itu menjadi kontributor bagi orang banyak dalam kehidupan.  Oya, sebenarnya banyak contoh para muslimah yang mengisi kejayaan Islam. Mereka benar-benar ada! Nih ya, diawali dari Khadijah Radhiyallahu ‘anha, istri Rasulullah Muhammad saw. dimana dia adalah seorang wanita yang tidak saja shalihah dan pengatur rumah tangga, tetapi juga pernah menjadi pebisnis wanita di jamannya. Terus, ada Aisyah Radhiyallahu ‘anha yang banyak menerima ilmu Islam dari Rasulullah saw. dan menjadikan ia sebagai ahli hukum dan berilmu. Lalu Ummu Salamah Radhiyallahu ‘anha yang banyak memberi pendapat kepada Rasulullah mengenai masalah politik. Belum lagi Nusaibah yang melindungi Rasul dalam kontak fisik dengan kaum kafir saat perang Uhud (ngutip dari emel.com). Nah, keren mana coba sama yang lenggak-lenggok di atas cat walk?
More other facts ! Di masa kekhilafahan Umar bin Khattab, seorang Ashifa binti Abdullah diberi tanggung jawab sebagai inspektur pemasaran dan manajer. Lalu, Amra binti Abdurahman, adalah salah satu ulama terbesar dan seorang ahli hukum juga mufti (memberikan pendapat hukum) dan perawi hadis di masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang mendorong umat Islam untuk berguru kepadanya. Nama yang satu ini juga keren banget!  Sebagai dermawan dan donatur, Ratu Zubayda, istri Khalifah Harun ar-Rasyid dalam dinasti Abbasiyah, patut diacungi jempol karena dia berkontribusi besar untuk pekerjaan umum seperti membangun sumur dan rumah tamu yang dibutuhkan untuk peziarah Mekkah, serta membangun sumur dan waduk. Selain itu, Ratu Zubayda adalah seorang intelektual yang mengungkapkan pikiran politiknya di depan umum juga mendukung penyair dan penulis (sumber: examiner.com)

Cantik dan cerdas nggak butuh kontes
Yup, buat apa diadakan kontesnya? Walaupun bawa slogan Brain, Beauty, Behaviour atau Smart, Shalehah, Stylish, beda tipislah. Satunya beneran haram sedangkan satunya diembel-embeli ‘syariah’ yang ujung-ujungnya tetep fokus pada ‘proporsional fisik’.
Sobat gaulislam, Lagi-lagi yang namanya ‘kecantikan’ bukan untuk dikonteskan atau dilombakan. Bagaimana ingin menampilkan sosok sempurna? Cantik, pinter, alim dan berkepribadian? Oh, that’s not so fair in life. Emangnya yang wajah pas-pasan dan bodi alakadarnya (dan itu nggak masuk kriteria kontes) kemudian jadi sosok nggak sempurna? No! What a life! That’s u make the rule, ya. Allah nggak pernah ngasih kriteria perempuan atau pun muslimah sempurna seperti itu. So please, sadar sesadar-sadarnya ya.
Begitu kalo kamu ingin eksis, ingin nampilin kelebihan kamu, contohlah para muslimah inspiratif yang saya contohkan tadi. Bener-bener berkontribusi untuk umat dengan apa yang mereka miliki, baik ilmu, harta dan jiwa dermawan mereka bahkan sampe nyawa demi mengharap ridho Allah Ta’ala. Acara kontes kecantikan apapun walaupun berlabel syariah menurut saya para pesertanya juga semuanya ‘lewaaat’ deh kalo dibandingkan dengan para muslimah inspiratif tersebut.
Bro en Sis rahimakumullah, yuk kita benahi diri kita dengan akidah Islam yang benar dan baik. Tanamkan dalam diri kita bahwa menjadi muslimah adalah bermartabat jika taat syariat. Sebab, Islam menghormati dan memberikan tempat yang layak bagi para muslimah. Jangan terpengaruh oleh konsep apapun–termasuk konsep kehidupan dan kecantikan yang berasal dari luar ajaran Islam, seperti kapitalisme-sekularisme yang diterapkan oleh negara saat ini. So, kamu yang punya wajah cantik masih terpesona dengan ajang sejenis Miss World? Cantikmu akan alihkan dunia dengan kontribusi yang nyata, yakni taat dengan aturanNya dan mengajak sesama muslimah dalam kebaikan di jalan Islam. Ayo, lakukan sekarang juga

apa tujuan hidupmu ???

apa tujuan hidupmu ???







Setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Setiap tahun selalu ada acara seremonial (belaka). Mungkin ada yang melaksanakan upacara, bikin lomba terkait momen tersebut, atau sekadar hiburan dan senang-senang saja atas nama peringatan hari Sumpah Pemuda. Selain itu, ada juga memikirkan esensinya, bukan sekadar peringatannya. Misalnya, mempertanyakan konsep diri dan jati diri para pemuda. Nah, yang terakhir ini masih mending. Sebab, kalo dipikir-pikir plus dirasa-rasa, memang jati diri para pemuda kita (termasuk remajanya tentu) sudah tercelup dengan warna lain. Gencarnya serangan budaya dari Korea misalnya, menjadikan banyak remaja Indonesia kena virus K-Wave (Korean Wave). Buktinya banyak yang gandrung dengan boyband asal Korea, juga drama-drama Korea dan segala bentuk produk budaya yang berhubungan dengan negeri ginseng itu. Bahkan ada yang parah, kegandrungan itu mengalihkan perhatiannya kepada syariat Islam dan juga akidah Islam lalu membuat tujuan hidup di dunia terpisah dari apa yang seharusnya dikejar untuk akhirat. Ini kan berbahaya, Bro en Sis.
Sobat gaulislam, selain serangan budaya yang menggerus jati diri pemuda Indonesia, juga justru ancaman itu ada yang datang dari dalam negeri sendiri. Coba kamu perhatikan dalam ‘ikrar’ Sumpah Pemuda. Yup! Semuanya bernuansa Indonesia, salah satunya bahasa. Tetapi apa yang terjadi? Bahasa Indonesia kini jadi bahasa asing bagi orang Indonesia sendiri. Apalagi setelah remaja lebih sering menggunakan bahasa yang membingungkan. Contohnya seperti dalam SMS yang pernah dikirim pembaca gaulislam ini: mIiqUuemzh _ kha sya iIkHha .. .. usia sya 16 ttahun alLmat sya d.parung …sya maUu nanya kHha!!! kalLo adda sso0rang guru yg mngungkit masa lLalLu anak murid nya yg amat sangat buruk d.Deppan anak murid llain appah kah masih ppantas dya d.Panggil GURU  ??? tterimakash iia qha attas jjawbn ea !!! miquemzh _
Hadeeeuhh, untuk baca SMS model gini, rasa-rasanya wajar kalo banyak orang bacanya sambil ngeden dan garuk-garuk kasur (hahahaha…).  Waduh, itu bahasa ajaib banget. Baca tulisan ini serasa jadi orang gagap. Astaghfirullah (jadi ngomongin orang gagap dah! Harap dipersori ya). Maka, tak mengherankan pula jika muncul broadcast via BBM (BlackBerry Messenger) atau WA (WhatsApp Messenger) yang kayaknya nyindir generasi alay: “Kalo tahun 1928, nulisnya Soempah Pemoeda. Kalo jaman sekarang nulisnya: cumpah? Miapah?” (haduuuh!). Kenapa sih harus terus main-main nggak jelas dalam jalani hidup ini seperti nggak punya tujuan utama?

Tentukan tujuan hidupmu!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Bagi kita, kaum muslimin, sangat penting memperhatikan tujuan hidup kita. Ada tujuan jangka pendek (dunia), ada yang tujuannya untuk jangka panjang, yakni akhirat. Namun ada titik temu di antara kedua tujuan itu, yakni keduanya sama-sama harus berlandaskan keimanan dalam meraih tujuan yang ingin diharapkan. Saling terikat-kait antara tujuan dunia dan tujuan akhirat. Nggak bisa dipisahkan dan juga nggak bisa disusupi dengan niat dan cara yang nggak benar.
Nah, ngomongin soal jati diri kita sebagai muslim, sebenarnya udah dijembrengin panjang lebar di edisi 313 pekan kemarin. Silakan kamu baca ulang ya (bagi yang udah pernah baca, kalo kamu belum pernah baca silakan baca biar paham juga ya). Adapun di edisi ini lebih detil lagi, yakni tentang tujuan hidup kita di dunia dan juga di akhirat. Sederhananya, apa sih tujuan hidupmu di dunia ini? Ingin jadi anak yang pinter dalam akademik di sekolah? Boleh. Ingin sukses berkarir setelah lulus kuliah? Silakan. Ingin menikah suatu saat dengan pasangan yang ideal? Monggo. Ingin sukses sebagai pengusaha? Nggak ada yang larang. Apa pun tujuan duniawi yang ingin kamu raih, silakan tak ada yang melarang. Hanya saja, Islam mengaturnya agar kita tak salah pilih jalan yang kemudian membuat kita tersesat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)
Firman Allah Ta’ala dalam ayat yang lain, “Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia” (QS al-Mu’minuun [23]: 115-116)
Sobat gaulislam, kedua ayat ini menjadi penjelas bagi kita untuk menentukan tujuan hidup kita. Saat ini yang kita sudah dan sedang rasakan adalah kehidupan dunia, dan yang belum adalah kehidupan akhirat. Tetapi ingat lho, bahwa hidup kita di dunia ini sementara (fana) dan hanya sekali.
Yup! Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana, tapi yang harus menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah: dengan cara apa kita meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita wafat? Bekal amal apa yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah Swt.? Amal baikkah, atau justru amal buruk? Pilihan ada di tangan kita.
Pilihan? Betul. Sebab keyakinan kita tentang akhir dunia dan kehidupan akhirat adalah pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat penciptaan kita, alam semesta, dan kehidupan ini. Begitu pula dengan amalan yang kita lakukan, adalah atas dasar pilihan yang kita dapatkan setelah memahami hakikat dan tujuan kita selama di dunia ini. Masing-masing kita membawa amal kita. Bukan amalan orang lain.
Sobat gaulislam, kita berasal dari Allah Swt. dan akan kembali kepadaNya pada waktu yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini kita juga diminta untuk beribadah kepada Allah Swt. Melaksanakan semua perintahNya dan nggak melakukan segala hal yang memang dilarang Allah Swt. Ini memang sederhana secara teori, tapi jarang yang bisa sukses dalam prakteknya. Semoga kita sih masuk ke dalam golongan orang-orang yang beriman kepada Allah Swt. dan beramal sholeh untuk bekal kehidupan setelah dunia ini. Amin.

Cinta dunia? Sewajarnya saja
Mencintai dunia boleh saja, tapi jangan berlebihan. Allah Swt. Berfirman (yang artinya):”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi…” (QS al-Qashash [28]: 77)
Bro en Sis, kalo kamu pengen nikmatin keindahan dunia, silakan aja. Nggak dilarang kok. Ingin kaya? Monggo aja. Ingin mendapatkan status sosial yang tinggi menurut ukuran dan pandangan manusia, juga boleh-boleh saja. Belajar jenjang demi jenjang untuk mendapatkan ilmu dan gelar akademis, Islam pun tak pernah membatasi. Silakan.
Cuma nih, yang perlu dapet perhatian adalah jangan sampe kita terlalu silau dengan gemerlap indahnya dunia, sehingga malah bikin kita lupa diri dan melupakan Allah Swt. Kalo kita menikmati dunia bukan cuma yang halal, tapi yang haram pun diembat juga, itu namanya kita udah lupa diri, Bro. Bener.
Ada syair yang bagus dari sebuah nasyid yang mengingatkan agar kita tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia dan segala perhiasannya yang membuat kita lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban. Begini sebagian lirik dari nasyid berjudul Fatamorgana yang dipopulerkan oleh Hijaz yang berkolaborasi dengan In Team: “…Deras arus dunia, menghanyutkan yang terlena/indah fatamorgana melalaikan menipu daya/dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi/ tiada sudahnya dunia yang dicari/Begitu indah dunia siapa pun kan tergoda/harta pangkat dan wanita melemahkan jiwa/Tanpa iman dalam hati kita kan dikuasai/syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi/Pulanglah kepada Tuhan cahaya kehidupan/Keimanan, ketakwaan kepadaNya senjata utama…”
Alangkah lebih mengenanya jika tak sekadar membaca syairnya seperti ini. Coba deh dengerin lagunya yang easy listening ini. Biasanya, nasyid seperti ini memang bisa menggugah nafsiyah kita yang mungkin saja udah tertimbun begitu banyak kesibukan dan urusan dunia lainnya.
Benar, dunia begitu indah gemerlapnya. Tapi tak semua yang ditawarkan itu baik, bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi kemaksiatan yang dikemas dengan manis dan menarik. Minuman keras, perzinahan, judi dan sejenisnya, menurut hawa nafsu manusia memang menyenangkan. Tapi, karena semua perbuatan itu dilarang oleh Allah Swt., maka hanya akan menuai siksa dan dosa jika dilakukan. Jika tak bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. Naudzubillahi min dzalik. Yuk, kita sadar diri ya.
Belajar, berdakwah, berjihad, dan amal shalih lainnya seringkali memberatkan kita. Belajar seringkali dihinggapi rasa malas, berdakwah pun kerap mendapatkan tekanan yang akhirnya kita futur, termasuk berjihad dan amalan shalih lainnya menjadi beban berat kita. Padahal, semua itu jika kita tunaikan dan dibarengi dengan keikhlasan, insya Allah akan mendatangkan pahala, dan juga menjadi jalan menuju surga yang telah dijanjikan Allah Swt. bagi hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shalih.
Sobat gaulislam, dunia memang gemerlap, dan enak dinikmati. Tapi, jangan sampai gemerlap dunia itu membuat kita lalai dan meninggalkan kewajiban kita. Sewajarnya saja menikmati dunia, karena selebihnya dunia itu adalah ladang ujian yang harus menjadi perhatian kita agar tak terjerumus dalam tipu dayanya. Itu sebabnya, kita memang boleh saja memiliki banyak harta, tapi jangan sampe kekayaan yang kita miliki menjeremuskan kita ke dalam kesesatan atau membuat kita lalai dari mengingat Allah Swt. dan RasulNya. Yakni membuat kita malas berbuat baik atau enggan menginfakkan harta demi kemajuan Islam dan umatnya ini.
Yup, Islam nggak melarang kita menikmati segala macam perhiasan dan pernak-pernik yang ditawarkan dunia. Tapi, sewajarnya saja kita meraihnya. Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk terus mengejarnya bak bayangan tak bertepi atau terus dicari seolah tiada bosannya dan tiada akhirnya untuk diburu. Semoga tidak demikian yang kita lakukan. Sebab, tujuan hidup kita adalah akhirat, dan dunia adalah sarana yang bisa kita raih untuk bekal di akhirat kelak.


Remaja, Ukir Prestasimu!

 remaja , ukir prestasimu !!!!



Wah, kayaknya enak ya kalau kita jadi remaja berprestasi. Bisa ketemu orang-orang penting, bisa jalan-jalan en sekolah gratis, disayang ortu, disanjung teman en tetangga. Wah, pokoke enak deh. Tuh, seperti yang dialami teman-teman kita. Baru-baru ini, ada Gayatri Wailissa, anak seorang pengrajin kaligrafi yang di usia belia telah menjadi Duta ASEAN karena kemampuannya menguasai 11 bahasa. Remaja berusia 16 tahun ini belajar bahasa secara otodidak dan sudah mengantongi sekitar 15 prestasi di segala bidang.
Jauh sebelumnya, Ada Ali Sucipto dan Purnawirman, remaja yang lahir di Palembang tahun 1987 ini telah menyumbangkan medali emas pada Olimpiade Fisika Asia (OFA) VI pada tahun 2005. Ada Ibrahim Handoko yang saat itu masih berusia 15 tahun berhasil memformulasikan persamaan untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak terbatas. Berkat penemuannya ini, pada tahun 2010 Ibrahim menjadi salah satu nominasi peneliti remaja terbaik di Jerman. Ia juga terpilih sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam olimpiade matematika di tingkat negara bagian. Demikian juga pada Olimpiade Matematika (2004), ada Fathia Prinastiti Sunarto yang mampu menyabet medali emas yang saat itu masih duduk di bangku kelas VI SD.
Tidak mau ketinggalan, di bidang kesenian, ada Jasmine Mutia Salsabila yang mampu berpidato dalam bahasa Inggris di depan SBY dan khalayak internasional pada kegiatan MDGs bulan Maret lalu.
Sobat gaulislam, prestasi memang melahirkan kebanggaan tersendiri, apalagi di usia remaja. Saat yang paling tepat untuk mengukir prestasi. Kenapa? Karena usia remaja adalah usia produktif. Pada usia ini, kita memiliki fisik yang prima. Itu sebabnya, remaja cenderung menyukai tantangan dan  mencoba hal-hal baru. Coba deh perhatikan, perubahan di dunia ini hampir selalu digerakkan oleh para remaja atau pemuda. Hmm…. Iya kan?

Prestasi itu penting
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tahu nggak arti dari prestasi? Yup, prestasi memiliki makna menjadi lebih. So, kalau kita masih sama aja ama orang lain, berarti itu belum dikatakan berprestasi. Sebagai seorang muslim maka berprestasi itu adalah hal yang penting. Karena bagi seorang muslim, menjadi lebih atau melakukan perbuatan yang terbaik adalah kewajiban. Ini sesuai sabda Rasululllah saw.: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR Muslim)
Rasulullah saw. sendiri, telah menjadi suri tauladan yang baik dalam hal ini. Beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai prestasi. Bagaimana tidak,  hampir setiap perbuatan yang dilakukan Rasulullah saw. selalu terjaga kualitasnya. Amal-amal beliau merupakan amal-amal yang terpelihara mutunya. Demikian juga keberaniannya, tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya senantiasa didedikasikan untuk suatu mutu yang tertinggi. Menjadi hamba yang terbaik, suami yang terbaik, ayah yang terbaik, kakek yang terbaik, tetangga yang terbaik, bahkan menjadi pemimpin negara yang terbaik. Keren dan bikin kita bangga.
Sobat gaulislam, setidaknya ada 4 faktor yang harus kita miliki untuk menjadi remaja prestatif:
Pertama, niat yang kuat. Niat merupakan hal yang utama bila seseorang akan melakukan suatu kegiatan. Begitu juga dalam usaha untuk mencapai prestasi. Meskipun sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih, tapi niatan karena Allah adalah niatan yang tak terkalahkan. Sebab dengan niat ini, kita tetap akan mendapatkan balasan meski harapan kita nggak teraih. Selain itu, niat yang lurus akan membuat tentram hati kita dalam menjalani setiap aktivitas. Lain halnya jika niat kita cuman buat jadi nomor satu en ngalahin temen. Saat gagal, kita nggak akan dapat apa-apa, bahkan meski tercapai, kita tetap nggak mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala. Rugi banget kan?!
So, niatkan bahwa kita melakukannya semata-mata untuk meraih ridho Allah Swt. Sucikan niat kita dalam menuntut ilmu apapun demi Allah Swt., karena menuntut ilmu pun merupakan ibadah. Allah Ta’ala berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Nah, niat yang lurus dan ikhlas, akan menghadirkan motivasi yang kuat. Jika niatnya semata-mata karena Allah Ta’ala, maka motivasinya pasti dong juga demi Allah Swt.
Kedua, kesungguhan dan semangat belajar yang tinggi. Jika kita tanyakan pada orang-orang yang berprestasi, apa kunci mereka bisa sukses di bidangnya, maka hampir bisa dipastikan jawabannya karena semangat belajar yang tinggi pada mereka. Orang yang berprestasi adalah orang-orang yang serius dan telaten dalam menekuni suatu kegiatan.
Setiap prestasi itu butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang pengen berprestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang ingin sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang pengen jadi orang yang faqih dalam agama juga butuh usaha keras. So, jika kita pengen seluruh aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi saw. bersabda: Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allâh Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR Muslim)
Ketiga, lingkungan yang mendukung. Biar udah punya motivasi yang kuat dan semangat belajar yang tinggi, tetap aja kita butuh lingkungan yang mendukung. Lingkungan inilah yang akan turut menjaga keistiqomahan kita dan terus  mengobarkan semangat kita. Nah, lingkungan seperti ini haruslah lingkungan yang sejalan dengan kita. Lingkungan yang bertolak belakang justru akan menurunkan energi semangat kita, bahkan menghancurkan motivasi yang kita bangun sebelumnya. Inilah nasihat Rasulullah saw. untuk memilih lingkungan yang baik: “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628)
So, pilihlah teman yang berjualan minyak wangi, ya. Ups! Maksudnya pilihlah teman-teman yang diibaratkan sebagai penjual wangi, yaitu teman-teman yang sholih dan membawa kita pada ketaatan.
Keempat, aturan dan dukungan negara. Aturan di masyarakat dan dukungan negara tentu sangat mendukung prestasi generasinya. Ini berkaitan dengan sistem yang diterapkan oleh negara. Ketika dahulu syariat Islam diterapkan oleh negara, pemerintah menjamin semua warganya agar mendapatkan pendidikan. Penguasa saat itu menyediakan pendidikan gratis baik bagi warga yang miskin maupun yang kaya, muslim maupun non-muslim. Negara juga menyediakan berbagai fasilitas agar para pelajar bisa belajar dengan nyaman serta menyediakan sarana-prasarana demi mendukung kemajuan belajar siswa seperti perpustakaan, laboratorium dan sebagainya. Semua itu diperoleh tanpa membayar alias gratis! Bandingkan dengan kondisi sekarang! Banyak sekolah yang nyaris ambruk dan presidennya justru curhat bin galau melulu. Miris ya?

Ini dia, remaja prestatif!
Remaja Islam pernah mengukir sejarah dengan gemilang. Sebut saja Ali bin Abu Thalib ra. yang berjuang sejak belia menegakkan Islam saat kali pertama Rasululah mulai berdakwah di Makkah. Sosoknya jenius sampai-sampai Rasulullah memuji Ali dengan sabdanya, “Aku adalah gudangnya ilmu, dan Ali adalah kuncinya.”
Ada pula Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel pada usia 23 tahun. Ada Al-Haytsam si penemu optik. Al-Kwarizmi sang pakar matematika dan memperkenalkan Aljabar untuk pertama kali. Ibnu Sina, muslim yang ahli kedokteran dan masih banyak lagi sederet pemuda muslim berprestasi lainnya. Mereka tidak hanya dikenal berprestasi, namun juga terkenal kesholihannya.
Sobat gaulislam, Emha Ainun Najib pernah mengistilahkan manusia dalam lima jenis (catet: hanya istilah, lho). Yaitu jenis manusia wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Manusia wajib ditandai jikalau keberadannya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya membuat hati orang di sekitarnya tercuri. Orang yang sunah, keberadaannya bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati orang lain. Artinya, tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Orang yang mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Adapun orang yang makruh, keberadannya justru membawa mudharat. Lain lagi dengan orang bertipe haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan ketiadaannya justru disyukuri. Hehehe.. Emha Ainun Nadjib memang pandai membuat istilah yang unik dan menarik.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kira-kira kita jenis manusia yang mana nih? Untuk menjadi remaja berprestasi, tentu dong minimal jadi manusia ‘jenis sunah’. Ya, nggak? Sesuai sabda Rasulullah saw., “Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Nah, cara yang paling tepat untuk menjadi manusia yang paling bermanfaat adalah dengan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain. Berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perubahan ke arah Islam. Islam yang dijadikan sebagai pandangan atau jalan hidup (ideologi).
Firman Allah Ta’ala: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110)
Ayo sobat, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada setiap diri hamba-hambaNya. Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia Allah Swt., Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam semesta dan segala isinya ini!



 http://www.gaulislam.com/remaja-ukir-prestasimu
 

About

http://about.me/van.hilmy

http://www.histats.com/viewstats/?act=2&sid=2506371Site Info

Histats.com © 2005-2012 Privacy Policy - Terms Of Use - Powered By Histats

Text

remaja islami Copyright © 2009 Template is Designed by Islamic Wallpers