remaja , ukir prestasimu !!!!
Wah, kayaknya enak ya kalau kita jadi remaja berprestasi. Bisa ketemu
orang-orang penting, bisa jalan-jalan en sekolah gratis, disayang ortu,
disanjung teman en tetangga. Wah, pokoke enak deh. Tuh, seperti yang
dialami teman-teman kita. Baru-baru ini, ada Gayatri Wailissa, anak
seorang pengrajin kaligrafi yang di usia belia telah menjadi Duta ASEAN
karena kemampuannya menguasai 11 bahasa. Remaja berusia 16 tahun ini
belajar bahasa secara otodidak dan sudah mengantongi sekitar 15 prestasi
di segala bidang.
Jauh sebelumnya, Ada Ali Sucipto dan Purnawirman, remaja yang lahir
di Palembang tahun 1987 ini telah menyumbangkan medali emas pada
Olimpiade Fisika Asia (OFA) VI pada tahun 2005. Ada Ibrahim Handoko yang
saat itu masih berusia 15 tahun berhasil memformulasikan persamaan
untuk menyelesaikan perhitungan angka piramida dengan jumlah tidak
terbatas. Berkat penemuannya ini, pada tahun 2010 Ibrahim menjadi salah
satu nominasi peneliti remaja terbaik di Jerman. Ia juga terpilih
sebagai matematikawan terbaik dan berhak mewakili distriknya dalam
olimpiade matematika di tingkat negara bagian. Demikian juga pada
Olimpiade Matematika (2004), ada Fathia Prinastiti Sunarto yang mampu
menyabet medali emas yang saat itu masih duduk di bangku kelas VI SD.
Tidak mau ketinggalan, di bidang kesenian, ada Jasmine Mutia
Salsabila yang mampu berpidato dalam bahasa Inggris di depan SBY dan
khalayak internasional pada kegiatan MDGs bulan Maret lalu.
Sobat gaulislam, prestasi memang melahirkan kebanggaan tersendiri,
apalagi di usia remaja. Saat yang paling tepat untuk mengukir prestasi.
Kenapa? Karena usia remaja adalah usia produktif. Pada usia ini, kita
memiliki fisik yang prima. Itu sebabnya, remaja cenderung menyukai
tantangan dan mencoba hal-hal baru. Coba deh perhatikan, perubahan di
dunia ini hampir selalu digerakkan oleh para remaja atau pemuda. Hmm….
Iya kan?
Prestasi itu penting
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Tahu nggak arti dari prestasi? Yup, prestasi memiliki makna menjadi lebih. So,
kalau kita masih sama aja ama orang lain, berarti itu belum dikatakan
berprestasi. Sebagai seorang muslim maka berprestasi itu adalah hal yang
penting. Karena bagi seorang muslim, menjadi lebih atau melakukan
perbuatan yang terbaik adalah kewajiban. Ini sesuai sabda Rasululllah
saw.: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan perbuatan ihsan (kebaikan yang maksimal) pada segala sesuatu.” (HR Muslim)
Rasulullah saw. sendiri, telah menjadi suri tauladan yang baik dalam
hal ini. Beliau adalah orang yang sangat menyukai dan mencintai
prestasi. Bagaimana tidak, hampir setiap perbuatan yang dilakukan
Rasulullah saw. selalu terjaga kualitasnya. Amal-amal beliau merupakan
amal-amal yang terpelihara mutunya. Demikian juga keberaniannya,
tafakurnya, dan aneka kiprah hidup keseharian lainnya. Seluruhnya
senantiasa didedikasikan untuk suatu mutu yang tertinggi. Menjadi hamba
yang terbaik, suami yang terbaik, ayah yang terbaik, kakek yang terbaik,
tetangga yang terbaik, bahkan menjadi pemimpin negara yang terbaik.
Keren dan bikin kita bangga.
Sobat gaulislam, setidaknya ada 4 faktor yang harus kita miliki untuk menjadi remaja prestatif:
Pertama, niat yang kuat. Niat merupakan hal yang utama bila seseorang
akan melakukan suatu kegiatan. Begitu juga dalam usaha untuk mencapai
prestasi. Meskipun sama-sama punya niatan dan tujuan yang bakal diraih,
tapi niatan karena Allah adalah niatan yang tak terkalahkan. Sebab
dengan niat ini, kita tetap akan mendapatkan balasan meski harapan kita
nggak teraih. Selain itu, niat yang lurus akan membuat tentram hati kita
dalam menjalani setiap aktivitas. Lain halnya jika niat kita cuman buat
jadi nomor satu en ngalahin temen. Saat gagal, kita nggak akan dapat
apa-apa, bahkan meski tercapai, kita tetap nggak mendapatkan keridhoan
Allah Ta’ala. Rugi banget kan?!
So, niatkan bahwa kita melakukannya semata-mata untuk meraih
ridho Allah Swt. Sucikan niat kita dalam menuntut ilmu apapun demi Allah
Swt., karena menuntut ilmu pun merupakan ibadah. Allah Ta’ala
berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan
orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. (QS al-Mujaadilah [58]: 11)
Nah, niat yang lurus dan ikhlas, akan menghadirkan motivasi yang
kuat. Jika niatnya semata-mata karena Allah Ta’ala, maka motivasinya
pasti dong juga demi Allah Swt.
Kedua, kesungguhan dan semangat belajar yang tinggi. Jika kita
tanyakan pada orang-orang yang berprestasi, apa kunci mereka bisa sukses
di bidangnya, maka hampir bisa dipastikan jawabannya karena semangat
belajar yang tinggi pada mereka. Orang yang berprestasi adalah
orang-orang yang serius dan telaten dalam menekuni suatu kegiatan.
Setiap prestasi itu butuh kesungguhan dan kerja keras. Orang yang
pengen berprestasi dalam pendidikannya butuh belajar giat, orang yang
ingin sukses pekerjaannya juga butuh kerja keras, orang yang pengen jadi
orang yang faqih dalam agama juga butuh usaha keras. So, jika kita pengen seluruh aktivitas dan peran kita berprestasi, usahanya tentu harus lebih keras. Nabi saw. bersabda: Berkemauan keraslah kepada apa-apa yang bermanfaat bagimu, dan minta tolonglah kepada Allâh Ta’ala dan janganlah bersikap lemah. (HR Muslim)
Ketiga, lingkungan yang mendukung. Biar udah punya motivasi yang kuat
dan semangat belajar yang tinggi, tetap aja kita butuh lingkungan yang
mendukung. Lingkungan inilah yang akan turut menjaga keistiqomahan kita
dan terus mengobarkan semangat kita. Nah, lingkungan seperti ini
haruslah lingkungan yang sejalan dengan kita. Lingkungan yang bertolak
belakang justru akan menurunkan energi semangat kita, bahkan
menghancurkan motivasi yang kita bangun sebelumnya. Inilah nasihat
Rasulullah saw. untuk memilih lingkungan yang baik: “Permisalan teman
yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan
seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak
wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun
tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai
besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak
engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari No. 5534 dan Muslim No. 2628)
So, pilihlah teman yang berjualan minyak wangi, ya. Ups!
Maksudnya pilihlah teman-teman yang diibaratkan sebagai penjual wangi,
yaitu teman-teman yang sholih dan membawa kita pada ketaatan.
Keempat, aturan dan dukungan negara. Aturan di masyarakat dan
dukungan negara tentu sangat mendukung prestasi generasinya. Ini
berkaitan dengan sistem yang diterapkan oleh negara. Ketika dahulu
syariat Islam diterapkan oleh negara, pemerintah menjamin semua warganya
agar mendapatkan pendidikan. Penguasa saat itu menyediakan pendidikan
gratis baik bagi warga yang miskin maupun yang kaya, muslim maupun
non-muslim. Negara juga menyediakan berbagai fasilitas agar para pelajar
bisa belajar dengan nyaman serta menyediakan sarana-prasarana demi
mendukung kemajuan belajar siswa seperti perpustakaan, laboratorium dan
sebagainya. Semua itu diperoleh tanpa membayar alias gratis! Bandingkan
dengan kondisi sekarang! Banyak sekolah yang nyaris ambruk dan
presidennya justru curhat bin galau melulu. Miris ya?
Ini dia, remaja prestatif!
Remaja Islam pernah mengukir sejarah dengan gemilang. Sebut saja Ali
bin Abu Thalib ra. yang berjuang sejak belia menegakkan Islam saat kali
pertama Rasululah mulai berdakwah di Makkah. Sosoknya jenius
sampai-sampai Rasulullah memuji Ali dengan sabdanya, “Aku adalah gudangnya ilmu, dan Ali adalah kuncinya.”
Ada pula Muhammad al-Fatih yang mampu menaklukkan Konstantinopel pada
usia 23 tahun. Ada Al-Haytsam si penemu optik. Al-Kwarizmi sang pakar
matematika dan memperkenalkan Aljabar untuk pertama kali. Ibnu Sina,
muslim yang ahli kedokteran dan masih banyak lagi sederet pemuda muslim
berprestasi lainnya. Mereka tidak hanya dikenal berprestasi, namun juga
terkenal kesholihannya.
Sobat gaulislam, Emha Ainun Najib pernah mengistilahkan manusia dalam
lima jenis (catet: hanya istilah, lho). Yaitu jenis manusia wajib,
sunah, mubah, makruh, dan haram. Manusia wajib ditandai jikalau
keberadannya sangat dirindukan, sangat bermanfaat, perilakunya membuat
hati orang di sekitarnya tercuri. Orang yang sunah, keberadaannya
bermanfaat, tetapi kalau pun tidak ada tidak tercuri hati orang lain.
Artinya, tidak ada rongga kosong akibat rasa kehilangan. Orang yang
mubah, ada tidak adanya tidak berpengaruh. Adapun orang yang makruh,
keberadannya justru membawa mudharat. Lain lagi dengan orang bertipe
haram, keberadaannya malah dianggap menjadi musibah, sedangkan
ketiadaannya justru disyukuri. Hehehe.. Emha Ainun Nadjib memang pandai
membuat istilah yang unik dan menarik.
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam, kira-kira kita
jenis manusia yang mana nih? Untuk menjadi remaja berprestasi, tentu
dong minimal jadi manusia ‘jenis sunah’. Ya, nggak? Sesuai sabda
Rasulullah saw., “Khairunnas anfa’uhum linnas”, “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Nah, cara yang paling tepat untuk menjadi manusia yang paling
bermanfaat adalah dengan meningkatkan kepedulian terhadap orang lain.
Berusaha sekuat tenaga untuk melakukan perubahan ke arah Islam. Islam
yang dijadikan sebagai pandangan atau jalan hidup (ideologi).
Firman Allah Ta’ala: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan
untuk manusia, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar dan beriman
kepada Allah…” (QS Ali Imran [3]: 110)
Ayo sobat, bangkitlah dan jangan ditunda-tunda lagi untuk menjadi
seorang pribadi muslim yang berprestasi, yang unggul dalam potensi yang
telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada setiap diri hamba-hambaNya.
Kitalah sebenarnya yang paling berhak menjadi manusia terbaik, yang
mampu menggenggam dunia ini, daripada mereka yang ingkar, tidak mengakui
bahwa segala potensi dan kesuksesan itu adalah anugerah dan karunia
Allah Swt., Zat Maha Pencipta dan Maha Penguasa atas jagat raya alam
semesta dan segala isinya ini!
http://www.gaulislam.com/remaja-ukir-prestasimu
Senin, 11 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar