apa tujuan hidupmu ???
Setiap tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda.
Setiap tahun selalu ada acara seremonial (belaka). Mungkin ada yang
melaksanakan upacara, bikin lomba terkait momen tersebut, atau sekadar
hiburan dan senang-senang saja atas nama peringatan hari Sumpah Pemuda.
Selain itu, ada juga memikirkan esensinya, bukan sekadar peringatannya.
Misalnya, mempertanyakan konsep diri dan jati diri para pemuda. Nah,
yang terakhir ini masih mending. Sebab, kalo dipikir-pikir plus
dirasa-rasa, memang jati diri para pemuda kita (termasuk remajanya
tentu) sudah tercelup dengan warna lain. Gencarnya serangan budaya dari
Korea misalnya, menjadikan banyak remaja Indonesia kena virus K-Wave
(Korean Wave). Buktinya banyak yang gandrung dengan boyband asal Korea,
juga drama-drama Korea dan segala bentuk produk budaya yang berhubungan
dengan negeri ginseng itu. Bahkan ada yang parah, kegandrungan itu
mengalihkan perhatiannya kepada syariat Islam dan juga akidah Islam lalu
membuat tujuan hidup di dunia terpisah dari apa yang seharusnya dikejar
untuk akhirat. Ini kan berbahaya, Bro en Sis.
Sobat gaulislam, selain serangan budaya yang menggerus jati diri
pemuda Indonesia, juga justru ancaman itu ada yang datang dari dalam
negeri sendiri. Coba kamu perhatikan dalam ‘ikrar’ Sumpah Pemuda. Yup!
Semuanya bernuansa Indonesia, salah satunya bahasa. Tetapi apa yang
terjadi? Bahasa Indonesia kini jadi bahasa asing bagi orang Indonesia
sendiri. Apalagi setelah remaja lebih sering menggunakan bahasa yang
membingungkan. Contohnya seperti dalam SMS yang pernah dikirim pembaca
gaulislam ini: mIiqUuemzh _ kha sya iIkHha .. .. usia sya 16 ttahun
alLmat sya d.parung …sya maUu nanya kHha!!! kalLo adda sso0rang guru yg
mngungkit masa lLalLu anak murid nya yg amat sangat buruk d.Deppan anak
murid llain appah kah masih ppantas dya d.Panggil GURU ??? tterimakash
iia qha attas jjawbn ea !!! miquemzh _
Hadeeeuhh, untuk baca SMS model gini, rasa-rasanya wajar kalo banyak
orang bacanya sambil ngeden dan garuk-garuk kasur (hahahaha…). Waduh,
itu bahasa ajaib banget. Baca tulisan ini serasa jadi orang gagap.
Astaghfirullah (jadi ngomongin orang gagap dah! Harap dipersori ya).
Maka, tak mengherankan pula jika muncul broadcast via BBM
(BlackBerry Messenger) atau WA (WhatsApp Messenger) yang kayaknya
nyindir generasi alay: “Kalo tahun 1928, nulisnya Soempah Pemoeda. Kalo
jaman sekarang nulisnya: cumpah? Miapah?” (haduuuh!). Kenapa sih harus
terus main-main nggak jelas dalam jalani hidup ini seperti nggak punya
tujuan utama?
Tentukan tujuan hidupmu!
Bro en Sis rahimakumullah, pembaca setia gaulislam. Bagi kita, kaum
muslimin, sangat penting memperhatikan tujuan hidup kita. Ada tujuan
jangka pendek (dunia), ada yang tujuannya untuk jangka panjang, yakni
akhirat. Namun ada titik temu di antara kedua tujuan itu, yakni keduanya
sama-sama harus berlandaskan keimanan dalam meraih tujuan yang ingin
diharapkan. Saling terikat-kait antara tujuan dunia dan tujuan akhirat.
Nggak bisa dipisahkan dan juga nggak bisa disusupi dengan niat dan cara
yang nggak benar.
Nah, ngomongin soal jati diri kita sebagai muslim, sebenarnya udah
dijembrengin panjang lebar di edisi 313 pekan kemarin. Silakan kamu baca
ulang ya (bagi yang udah pernah baca, kalo kamu belum pernah baca
silakan baca biar paham juga ya). Adapun di edisi ini lebih detil lagi,
yakni tentang tujuan hidup kita di dunia dan juga di akhirat.
Sederhananya, apa sih tujuan hidupmu di dunia ini? Ingin jadi anak yang
pinter dalam akademik di sekolah? Boleh. Ingin sukses berkarir setelah
lulus kuliah? Silakan. Ingin menikah suatu saat dengan pasangan yang
ideal? Monggo. Ingin sukses sebagai pengusaha? Nggak ada yang
larang. Apa pun tujuan duniawi yang ingin kamu raih, silakan tak ada
yang melarang. Hanya saja, Islam mengaturnya agar kita tak salah pilih
jalan yang kemudian membuat kita tersesat.
Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu” (QS adz-Dzaariyaat [51]: 56)
Firman Allah Ta’ala dalam ayat yang lain, “Maka apakah kamu
mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main
(saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha
Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan
(Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia” (QS al-Mu’minuun [23]: 115-116)
Sobat gaulislam, kedua ayat ini menjadi penjelas bagi kita untuk
menentukan tujuan hidup kita. Saat ini yang kita sudah dan sedang
rasakan adalah kehidupan dunia, dan yang belum adalah kehidupan akhirat.
Tetapi ingat lho, bahwa hidup kita di dunia ini sementara (fana) dan
hanya sekali.
Yup! Memang benar bahwa kehidupan kita fana, dunia ini juga fana,
tapi yang harus menjadi perhatian kita dan kekhawatiran kita adalah:
dengan cara apa kita meninggalkan dunia ini? Pada saat seperti apa kita
wafat? Bekal amal apa yang kita bawa untuk dibawa menghadap Allah Swt.?
Amal baikkah, atau justru amal buruk? Pilihan ada di tangan kita.
Pilihan? Betul. Sebab keyakinan kita tentang akhir dunia dan
kehidupan akhirat adalah pilihan yang kita dapatkan setelah memahami
hakikat penciptaan kita, alam semesta, dan kehidupan ini. Begitu pula
dengan amalan yang kita lakukan, adalah atas dasar pilihan yang kita
dapatkan setelah memahami hakikat dan tujuan kita selama di dunia ini.
Masing-masing kita membawa amal kita. Bukan amalan orang lain.
Sobat gaulislam, kita berasal dari Allah Swt. dan akan kembali
kepadaNya pada waktu yang telah ditentukan. Nah, selama di dunia ini
kita juga diminta untuk beribadah kepada Allah Swt. Melaksanakan semua
perintahNya dan nggak melakukan segala hal yang memang dilarang Allah
Swt. Ini memang sederhana secara teori, tapi jarang yang bisa sukses
dalam prakteknya. Semoga kita sih masuk ke dalam golongan orang-orang
yang beriman kepada Allah Swt. dan beramal sholeh untuk bekal kehidupan
setelah dunia ini. Amin.
Cinta dunia? Sewajarnya saja
Mencintai dunia boleh saja, tapi jangan berlebihan. Allah Swt. Berfirman (yang artinya):”Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi…” (QS al-Qashash [28]: 77)
Bro en Sis, kalo kamu pengen nikmatin keindahan dunia, silakan aja. Nggak dilarang kok. Ingin kaya? Monggo
aja. Ingin mendapatkan status sosial yang tinggi menurut ukuran dan
pandangan manusia, juga boleh-boleh saja. Belajar jenjang demi jenjang
untuk mendapatkan ilmu dan gelar akademis, Islam pun tak pernah
membatasi. Silakan.
Cuma nih, yang perlu dapet perhatian adalah jangan sampe kita terlalu
silau dengan gemerlap indahnya dunia, sehingga malah bikin kita lupa
diri dan melupakan Allah Swt. Kalo kita menikmati dunia bukan cuma yang
halal, tapi yang haram pun diembat juga, itu namanya kita udah lupa
diri, Bro. Bener.
Ada syair yang bagus dari sebuah nasyid yang mengingatkan agar kita
tidak mudah tertipu dengan gemerlap dunia dan segala perhiasannya yang
membuat kita lalai dan bahkan meninggalkan kewajiban. Begini sebagian
lirik dari nasyid berjudul Fatamorgana yang dipopulerkan oleh Hijaz yang berkolaborasi dengan In Team: “…Deras
arus dunia, menghanyutkan yang terlena/indah fatamorgana melalaikan
menipu daya/dikejar dicintai bak bayangan tak bertepi/ tiada sudahnya
dunia yang dicari/Begitu indah dunia siapa pun kan tergoda/harta pangkat
dan wanita melemahkan jiwa/Tanpa iman dalam hati kita kan
dikuasai/syaitan nafsu dalam diri musuh yang tersembunyi/Pulanglah
kepada Tuhan cahaya kehidupan/Keimanan, ketakwaan kepadaNya senjata
utama…”
Alangkah lebih mengenanya jika tak sekadar membaca syairnya seperti ini. Coba deh dengerin lagunya yang easy listening
ini. Biasanya, nasyid seperti ini memang bisa menggugah nafsiyah kita
yang mungkin saja udah tertimbun begitu banyak kesibukan dan urusan
dunia lainnya.
Benar, dunia begitu indah gemerlapnya. Tapi tak semua yang ditawarkan
itu baik, bahkan mungkin adalah jebakan untuk tergoda mencicipi
kemaksiatan yang dikemas dengan manis dan menarik. Minuman keras,
perzinahan, judi dan sejenisnya, menurut hawa nafsu manusia memang
menyenangkan. Tapi, karena semua perbuatan itu dilarang oleh Allah Swt.,
maka hanya akan menuai siksa dan dosa jika dilakukan. Jika tak
bertobat, tentunya nerakalah tempat kembalinya. Naudzubillahi min dzalik. Yuk, kita sadar diri ya.
Belajar, berdakwah, berjihad, dan amal shalih lainnya seringkali
memberatkan kita. Belajar seringkali dihinggapi rasa malas, berdakwah
pun kerap mendapatkan tekanan yang akhirnya kita futur, termasuk
berjihad dan amalan shalih lainnya menjadi beban berat kita. Padahal,
semua itu jika kita tunaikan dan dibarengi dengan keikhlasan, insya
Allah akan mendatangkan pahala, dan juga menjadi jalan menuju surga yang
telah dijanjikan Allah Swt. bagi hamba-hambaNya yang beriman dan
beramal shalih.
Sobat gaulislam, dunia memang gemerlap, dan enak dinikmati. Tapi,
jangan sampai gemerlap dunia itu membuat kita lalai dan meninggalkan
kewajiban kita. Sewajarnya saja menikmati dunia, karena selebihnya dunia
itu adalah ladang ujian yang harus menjadi perhatian kita agar tak
terjerumus dalam tipu dayanya. Itu sebabnya, kita memang boleh saja
memiliki banyak harta, tapi jangan sampe kekayaan yang kita miliki
menjeremuskan kita ke dalam kesesatan atau membuat kita lalai dari
mengingat Allah Swt. dan RasulNya. Yakni membuat kita malas berbuat baik
atau enggan menginfakkan harta demi kemajuan Islam dan umatnya ini.
Yup, Islam nggak melarang kita menikmati segala macam perhiasan dan
pernak-pernik yang ditawarkan dunia. Tapi, sewajarnya saja kita
meraihnya. Jangan sampai kita tertipu dan gelap mata mencintainya untuk
terus mengejarnya bak bayangan tak bertepi atau terus dicari seolah
tiada bosannya dan tiada akhirnya untuk diburu. Semoga tidak demikian
yang kita lakukan. Sebab, tujuan hidup kita adalah akhirat, dan dunia
adalah sarana yang bisa kita raih untuk bekal di akhirat kelak.
Senin, 11 November 2013
Langganan:
Posting Komentar (Atom)






0 komentar:
Posting Komentar